
Intermittent fasting (IF) atau puasa berselang semakin populer sebagai pendekatan untuk membantu mengelola berat badan dan kesehatan metabolik. Namun, apakah metode ini benar-benar lebih baik daripada pola makan biasa bagi penyandang diabetes tipe 2?
Jawabannya: belum tentu.
Penelitian menunjukkan bahwa intermittent fasting dapat membantu sebagian orang memperbaiki kontrol gula darah dan menurunkan berat badan. Namun, manfaatnya tidak selalu lebih besar dibandingkan pola makan dengan pembatasan kalori atau pendekatan nutrisi lainnya. Keberhasilannya bergantung pada kualitas makanan, pola makan secara keseluruhan, konsistensi, dan kondisi kesehatan masing-masing orang.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis uji klinis (Chadwick dkk., 2024) menemukan bahwa intermittent fasting dan pola makan pembanding memberikan hasil yang relatif serupa dalam perubahan HbA1c, gula darah puasa, dan berat badan. Hanya empat studi dengan 238 peserta yang dapat dianalisis, sehingga kesimpulannya perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Artinya, puasa bukan satu-satunya jalan untuk memperbaiki kesehatan metabolik. Yang lebih penting adalah menemukan pola makan yang tepat, aman, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Dalam artikel ini:
- Apa itu intermittent fasting?
- Bagaimana IF memengaruhi metabolisme?
- IF vs diet biasa: mana yang lebih baik?
- Apakah IF dapat membantu remisi diabetes tipe 2?
- Risiko IF bagi penyandang diabetes
- Bagaimana dengan puasa Ramadan dan puasa sunnah?
- Jika ingin mencoba, apa yang perlu diperhatikan?
- Apakah harus melewatkan sarapan?
- Pertanyaan yang sering diajukan
Apa Itu Intermittent Fasting?
Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur periode makan dan periode puasa. Pendekatan ini lebih menekankan kapan seseorang makan, bukan semata-mata jenis makanan yang dikonsumsi.
Beberapa metode yang populer:
- Metode 12:12: berpuasa 12 jam, makan dalam jendela 12 jam
- Metode 14:10: berpuasa 14 jam, makan dalam jendela 10 jam
- Metode 16:8: berpuasa 16 jam, makan dalam jendela 8 jam (time-restricted eating)
- Metode 5:2: makan seperti biasa lima hari, membatasi asupan energi dua hari lainnya
Metode yang lebih ketat tidak otomatis memberikan hasil lebih baik bagi setiap orang.
Perlu dipahami pula bahwa intermittent fasting untuk tujuan kesehatan berbeda dari puasa keagamaan. Durasi puasa, asupan cairan, aktivitas, dan pengaturan obat dapat berbeda — sehingga pertimbangan keamanannya juga tidak selalu sama.
Bagaimana Intermittent Fasting Memengaruhi Metabolisme?
Dasar cara tubuh mengatur energi dibahas di artikel metabolisme dan energi dan memahami metabolisme dan gula darah.
Setelah makan, tubuh mencerna makanan dan menggunakan zat gizi untuk menjalankan berbagai fungsi. Sebagian glukosa digunakan sebagai energi, sebagian lagi disimpan sebagai glikogen. Insulin berperan membantu pengaturan penggunaan dan penyimpanan energi.
Ketika seseorang tidak makan, tubuh secara bertahap menggunakan cadangan energi. Hormon glukagon membantu menjaga kadar glukosa agar tidak turun terlalu rendah, dan seiring bertambahnya durasi puasa, kontribusi lemak sebagai sumber energi dapat meningkat.
Dalam uji acak pada penderita diabetes tipe 2 dengan obesitas (Pavlou dkk., 2023), kelompok yang makan hanya dalam jendela delapan jam tanpa menghitung kalori rata-rata mengurangi asupan sekitar 313 kkal per hari, dibanding sekitar 197 kkal pada kelompok pembatasan kalori harian. Peserta melaporkan lebih patuh pada jadwal makan (sekitar 87% hari) dibanding target kalori (sekitar 68% hari).
Namun ada beberapa hal yang perlu diluruskan:
Pertama, puasa tidak otomatis memperbaiki sensitivitas insulin pada semua orang.
Kedua, tidak ada satu jam tertentu yang menjamin tubuh mulai membakar lemak. Peralihan berlangsung bertahap, tidak berdasarkan batas waktu yang sama untuk setiap orang.
Ketiga, periode tanpa makan yang lebih panjang bukan jaminan kesehatan metabolik yang lebih baik. Kualitas tidur, aktivitas fisik, massa otot, dan konsistensi kebiasaan tetap berperan penting.
Intermittent Fasting vs Diet Biasa: Mana yang Lebih Baik?
| Aspek | Intermittent Fasting | Pembatasan Kalori |
|---|---|---|
| Fokus utama | Mengatur waktu makan dan puasa | Mengatur jumlah asupan energi |
| Penurunan berat badan | Dapat membantu jika mengurangi asupan energi | Dapat membantu jika asupan lebih rendah dari kebutuhan |
| Kontrol gula darah | Berpotensi membaik pada sebagian orang | Berpotensi membaik melalui asupan dan kualitas makanan |
| Fleksibilitas | Dapat membatasi waktu makan dan aktivitas sosial | Lebih fleksibel dalam menentukan waktu makan |
| Tantangan | Lapar saat puasa, sulit menyesuaikan jadwal | Mengatur porsi dan mempertahankan konsistensi |
| Pertimbangan keamanan | Memerlukan perhatian khusus pada pengguna insulin | Tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan terapi |
Apa kata bukti terbaru?
Dalam studi enam bulan pada 75 peserta (Pavlou dkk., 2023), makan dalam jendela 8 jam menurunkan HbA1c sekitar 0,9 poin persentase — hampir sama dengan kelompok pembatasan kalori 25%. Tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok dalam HbA1c.
Meta-analisis Chadwick dkk. (empat studi, 238 peserta) tidak menemukan perbedaan bermakna antara IF dan pola makan biasa dalam HbA1c, gula darah puasa, maupun berat badan.
Network meta-analysis di BMJ (2025) menemukan bahwa semua strategi puasa maupun pembatasan kalori menurunkan berat badan dibanding makan bebas, dan tidak ada perbedaan HbA1c di antara pendekatan-pendekatan itu.
Kesimpulan yang jujur: IF dan pembatasan kalori cenderung memberi hasil yang mirip. IF mungkin lebih mudah bagi orang yang merasa mengatur waktu lebih sederhana dari menghitung kalori, tetapi bukan jalan yang lebih unggul bagi semua orang.
Pertanyaan yang lebih relevan bukan “metode mana yang paling cepat?”, melainkan “pola makan mana yang membantu saya mengelola gula darah, memenuhi kebutuhan gizi, dan konsisten menjalankannya?”
Apakah Intermittent Fasting Dapat Membantu Remisi Diabetes Tipe 2?
Remisi diabetes tipe 2 adalah kondisi ketika HbA1c kembali di bawah 6,5% dan bertahan setidaknya tiga bulan tanpa obat penurun glukosa. Seperti yang sudah dibahas di artikel reverse diabetes atau remisi diabetes.
Pada sebagian orang, penurunan berat badan yang bermakna dan perubahan gaya hidup terstruktur dapat membantu mencapai remisi. IF dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membantu mengelola asupan energi. Namun saat ini belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa IF secara khusus menjamin remisi atau lebih unggul dari semua pendekatan lainnya.
Remisi pun bukan kesembuhan permanen. Kadar gula darah tetap perlu dipantau dan pemeriksaan kesehatan harus dilanjutkan sesuai anjuran dokter.
Jangan menghentikan atau mengurangi obat diabetes hanya karena gula darah membaik. Setiap perubahan terapi harus dilakukan bersama dokter.
Risiko Intermittent Fasting bagi Penyandang Diabetes
Intermittent fasting tidak selalu berbahaya, tetapi tidak cocok untuk semua orang. Panduan International Diabetes Federation (IDF) menyebut komplikasi yang dapat timbul, termasuk gula darah rendah, gula darah tinggi, dan dehidrasi.
Hipoglikemia (Gula Darah Terlalu Rendah)
Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada pengguna insulin atau obat yang merangsang pelepasan insulin, seperti sulfonilurea. Ketika waktu makan berubah, kebutuhan obat dapat berubah pula. Gejala hipoglikemia: gemetar, keringat dingin, jantung berdebar, pusing, kebingungan.
Hiperglikemia (Gula Darah Terlalu Tinggi)
Puasa tidak menjamin gula darah selalu turun. Hormon yang mempertahankan kadar glukosa tetap bekerja selama tidak makan, sehingga pada sebagian orang gula darah dapat tetap tinggi meskipun belum makan.
Dehidrasi dan Gangguan Keseimbangan Energi
Pembatasan asupan yang terlalu ketat dapat memicu lemas, sakit kepala, atau pusing. Lihat artikel air dan metabolisme tentang pentingnya cukup cairan.
Pengguna SGLT2 inhibitor juga memerlukan perhatian khusus — dokter yang dapat menilai apakah obat perlu disesuaikan.
Tidak Cocok untuk Semua Kondisi
Orang dengan diabetes tipe 1, riwayat hipoglikemia berat, komplikasi diabetes tertentu, kehamilan atau menyusui, berat badan kurang, usia lanjut yang rapuh, atau kondisi kesehatan yang kompleks perlu mendapat penilaian medis sebelum mempertimbangkan puasa.
Pendekatan ini juga tidak dianjurkan bagi yang memiliki riwayat gangguan makan. Bila ini berlaku pada Anda, baca artikel jaga kesadaran metabolik tanpa takut makan dan bicarakan dengan tenaga profesional.
Bagaimana dengan Puasa Ramadan dan Puasa Sunnah?
Di Indonesia, banyak penyandang diabetes yang berpuasa karena alasan keagamaan. Keputusan itu bersifat pribadi dan kami menghormatinya. Yang ingin kami sampaikan adalah sisi keselamatannya.
Panduan IDF-DAR menganjurkan penilaian risiko sebelum berpuasa, dengan edukasi yang idealnya dimulai satu sampai dua bulan sebelum Ramadan, serta penyesuaian obat dan rencana pemantauan gula darah.
Puasa keagamaan berbeda dari IF untuk tujuan kesehatan. Waktu sahur dan berbuka, jenis asupan, serta durasinya dapat berbeda — sehingga rencana yang disusun bersama dokter perlu menyesuaikan.
Bicarakan dengan dokter Anda sebelum berpuasa, dan jangan menunggu menjelang hari pertama.
Jika Ingin Mencoba, Apa yang Perlu Diperhatikan?
1. Konsultasikan dengan dokter. Terutama bagi penyandang diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun glukosa. Jangan mengubah dosis obat sendiri.
2. Perhatikan kualitas makanan selama jendela makan. Waktu makan yang terbatas bukan alasan mengabaikan kualitas. Utamakan sayuran, protein, serat, dan karbohidrat yang sesuai kebutuhan. Terapkan urutan makan yang lebih ramah gula darah.
3. Hindari makan berlebihan setelah berpuasa. Rasa lapar yang meningkat dapat mendorong porsi besar atau makanan tinggi gula tambahan.
4. Pantau respons tubuh sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jika muncul gejala hipoglikemia, utamakan keselamatan dan ikuti rencana penanganan yang telah disepakati.
5. Minum cukup cairan tanpa gula selama periode puasa, kecuali dokter menganjurkan lain.
6. Jangan abaikan tidur, aktivitas fisik, dan massa otot. Kesehatan metabolik tidak hanya ditentukan oleh waktu makan. Seperti dibahas di artikel 6 hal yang bisa ditinjau kembali setelah memahami metabolisme.
Apakah Harus Melewatkan Sarapan untuk Menjaga Metabolisme?
Tidak.
IF tidak berarti semua orang harus melewatkan sarapan. Sebagian orang memilih jendela makan yang lebih awal, sebagian lain memilih jadwal berbeda.
Seperti yang sudah dibahas di artikel sarapan dan metabolisme: pada penderita diabetes ada petunjuk bahwa keteraturan makan berperan terhadap respons gula darah di waktu makan berikutnya. Sarapan yang direncanakan dengan baik dapat menjadi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan membangun rutinitas makan yang konsisten.
Daripada berfokus pada apakah sarapan harus dilewatkan, pertimbangkan:
- Apakah sarapan saya menyediakan protein dan serat yang memadai?
- Apakah porsi dan komposisinya sesuai kebutuhan?
- Apakah pola ini membantu energi dan aktivitas sehari-hari?
- Apakah jadwal ini sesuai dengan kondisi dan obat yang saya gunakan?
Pendekatan Herbmeal: Fokus pada Metabolisme, Bukan Sekadar Jam Makan
Di Herbmeal, kami memandang kesehatan metabolik sebagai hasil dari berbagai kebiasaan yang saling berkaitan — bukan hanya satu metode diet.
IF dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang. Namun orang yang tidak menjalankannya pun tetap dapat membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan metabolik melalui pemilihan makanan, aktivitas fisik, tidur, dan konsistensi pola makan.
Herbmeal Metabalance dapat menjadi bagian dari rutinitas sarapan melalui formula berlapis 5LayerMatrix™. Bagi yang menjalani IF, konsumsi Herbmeal perlu dijadwalkan dalam jendela makan — karena mengandung energi dan zat gizi, ia tidak boleh dikonsumsi selama periode puasa.
Herbmeal bukan pengganti terapi diabetes, bukan jaminan gula darah terkendali, dan bukan pengganti pola makan yang beragam. Bila Anda sedang minum obat, memiliki diabetes atau kondisi medis lain, sedang hamil, atau menyusui, bicarakan dulu dengan dokter atau apoteker. Penjelasan lengkapnya ada di artikel Herbmeal bukan suplemen biasa, bukan diet, tapi kebiasaan.
Mitos vs Fakta
Mitos 1
“Intermittent fasting lebih efektif dari diet biasa untuk mengontrol gula darah.”
Fakta 1
Beberapa tinjauan dan uji acak menemukan hasil HbA1c yang serupa dibanding pembatasan kalori. IF bukan pendekatan yang lebih unggul bagi semua orang — yang terpenting adalah aman dan bisa dipertahankan.
Mitos 2
“Semakin lama berpuasa, semakin baik hasilnya.”
Fakta 2
Durasi puasa yang lebih panjang meningkatkan risiko hipoglikemia pada pengguna obat tertentu. Metode yang lebih ketat tidak otomatis lebih baik, dan keputusan tentang durasi perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan dan obat yang digunakan.
Mitos 3
“Gula darah pasti turun saat berpuasa.”
Fakta 3
Hormon yang mempertahankan kadar glukosa tetap bekerja selama tidak makan. Pada sebagian orang, gula darah dapat tetap tinggi atau meningkat meskipun belum makan.
Mitos 4
“IF bisa menyembuhkan diabetes.”
Fakta 4
Tidak ada bukti IF menyembuhkan diabetes. Pada sebagian orang, penurunan berat badan dan perubahan gaya hidup dapat membantu remisi — namun remisi bukan kesembuhan permanen dan pemantauan tetap diperlukan.
Ringkasan
- IF dapat membantu sebagian orang, tetapi belum terbukti lebih baik dari pembatasan kalori untuk diabetes tipe 2.
- Risiko utama: hipoglikemia pada pengguna insulin dan sulfonilurea, hiperglikemia, dehidrasi.
- Pengguna insulin, sulfonilurea, dan SGLT2 inhibitor wajib berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah jadwal makan.
- Puasa Ramadan dan puasa sunnah memerlukan penilaian risiko dan rencana obat bersama dokter — mulai jauh sebelum puasa.
- Tidak perlu memaksakan puasa panjang hanya karena sedang populer. Pola makan terencana, kualitas makanan, aktivitas fisik, tidur, dan pemantauan tetap menjadi fondasi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah intermittent fasting aman bagi penderita diabetes tipe 2?
Tergantung kondisi dan obat yang digunakan. Pengguna insulin, sulfonilurea, dan SGLT2 inhibitor perlu penilaian dokter lebih dulu. Konsultasikan sebelum memulai.
Apakah IF lebih baik daripada diet biasa untuk diabetes?
Belum terbukti lebih baik. Beberapa tinjauan menemukan hasil HbA1c yang serupa. IF mungkin lebih mudah dijalani sebagian orang, tetapi pola terbaik adalah yang aman dan bisa dipertahankan.
Bolehkah berpuasa jika minum obat diabetes atau insulin?
Jangan memulai tanpa berkonsultasi dengan dokter. Melewatkan makan saat memakai obat tertentu dapat menimbulkan gula darah terlalu rendah. Jangan mengubah dosis sendiri.
Bagaimana dengan puasa Ramadan atau puasa Senin-Kamis?
Panduan IDF-DAR menganjurkan penilaian risiko dan edukasi sebelum berpuasa, serta rencana obat dan pemantauan gula darah. Bicarakan dengan dokter jauh sebelum puasa dimulai.
Apakah saya harus melewatkan sarapan?
Tidak. IF tidak mewajibkan melewatkan sarapan. Yang terpenting adalah kualitas asupan dan kesesuaian dengan kondisi dan obat Anda.
Apakah IF bisa menyembuhkan diabetes?
Tidak ada bukti IF menyembuhkan diabetes. Pada sebagian orang, perubahan gaya hidup dapat membantu remisi, tetapi remisi bukan kesembuhan permanen.
Bolehkah mengonsumsi Herbmeal saat jendela puasa?
Herbmeal mengandung energi dan zat gizi, sehingga konsumsinya mengakhiri puasa. Jadwalkan pada jendela makan Anda dan ikuti aturan pakai pada kemasan.
Apa yang Herbmeal Percayai
Kami percaya tidak ada jam makan ajaib, dan tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang.
Kami percaya keputusan tentang pola makan terbaik diambil bersama dokter Anda, dengan memahami kondisi tubuh dan obat yang digunakan.
Dan kami percaya yang terbaik adalah pola yang bisa Anda jalani dengan tenang, hari demi hari.
Artikel Terkait
Memahami Metabolisme dan Gula Darah Panduan dasar tentang cara kerja gula darah, insulin, dan metabolisme — fondasi untuk memahami mekanisme IF.
Reverse Diabetes atau Remisi Diabetes? Penjelasan jujur tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin — termasuk peran perubahan gaya hidup dalam remisi diabetes.
Sarapan dan Metabolisme: Panduan Praktis Apa kata penelitian tentang sarapan bagi penyandang diabetes — dan bagaimana membuatnya bermanfaat tanpa tekanan.
6 Hal yang Bisa Ditinjau Kembali Setelah Memahami Metabolisme Mengapa memaksakan pola makan yang tidak cocok justru kontraproduktif — dan alternatif yang lebih realistis.
Jaga Kesadaran Metabolik Tanpa Takut Makan Untuk siapapun yang khawatir bahwa perhatian pada makanan mulai berubah menjadi kecemasan.
Tidak Perlu Menunggu Sakit: Menjaga Metabolisme Sejak Dini Mengapa pendekatan preventif selalu lebih efektif — dan bagaimana memulainya dengan langkah yang realistis.
Referensi
- Chadwick J, Ayyasamy L, Kalyanasundaram M, et al. Efficacy and safety of intermittent fasting for type 2 diabetes mellitus: a systematic review and meta-analysis of randomized trials. Diabetes Epidemiology and Management. 2025;17:100249. doi:10.1016/j.deman.2024.100249
- Pavlou V, Cienfuegos S, Lin S, et al. Effect of time-restricted eating on weight loss in adults with type 2 diabetes: a randomized clinical trial. JAMA Network Open. 2023;6(10):e2339337. doi:10.1001/jamanetworkopen.2023.39337
- Intermittent fasting strategies and their effects on body weight and other cardiometabolic risk factors: systematic review and network meta-analysis of randomised clinical trials. BMJ. 2025. doi:10.1136/bmj-2024-082007
- International Diabetes Federation. Diabetes and fasting. https://idf.org/managing-diabetes/fasting/
- International Diabetes Federation dan DAR International Alliance. Diabetes and Ramadan: Practical Guidelines. 2021.
- Diabetes UK. Intermittent fasting diets for type 2 diabetes remission. https://www.diabetes.org.uk
- Riddle MC, Cefalu WT, Evans PH, et al. Consensus report: definition and interpretation of remission in type 2 diabetes. Diabetes Care. 2021;44(10):2438-2444.
Disclaimer. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau terapi dari tenaga kesehatan. Herbmeal bukan obat. Penyandang diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengubah jadwal makan atau memulai program puasa apapun.
Tentang Nutrisi Metabolik Herbmeal. “Nutrisi Metabolik” adalah kerangka edukasi dan pendekatan yang dikembangkan Herbmeal, bukan istilah medis resmi atau pengganti diagnosis, terapi, maupun saran medis dari tenaga kesehatan.
Dikurasi oleh Tim Herbmeal bersama konsultan di bidang kesehatan, nutrisi, dan metabolisme, serta disusun berdasarkan literatur ilmiah dan pedoman berbasis bukti yang relevan.



